SORSEL BERSATU

Indonesia telah hancurkan ketahanan ekonomi pangan Papua

baca
Bekerja dan Berbagi

Rakyat Papua! Kita sedang menuju krisis ekonomi paling parah akibat Covid-19. Penguasa Indonesia tidak akan menjamin kelangsungan hidup kita. Justru dalam situasi susah, rakyat kita terus ditembak mati, dan membiarkan virus corona tersebar tanpa menutup akses laut dan darat.

Krisis ini adalah konsekuensi dari kolonialisme dan kapitalisme. Kepentingan politik dan ekonomi penguasa Indonesia itu telah membuat kita tidak akan bertahan menghadapi krisis ini. Karena, selama 58 tahun, Indonesia telah hancurkan ketahanan ekonomi pangan Papua.

Hari-hari depan kita dilanda "musim kelaparan" diatas tanah air yang kaya. Karena selera makan kita adalah nasi, mie, roti, bakso, ayam potong, ikan kaleng, dll., yang bukan merupakan produk pangan asli bangsa Papua. Semuanya hasil impor dari bangsa Penjajah.

Kita telah terasing dari tanah air yang kaya sumber budidaya dan komoditas pangan. Sebab penguasa penjajah dan perusahaan tambang, sawit, logging, dsb., telah merampas dan mengalihkan budaya konsumsi kita pada produk kolonial-kapitalis.

Situasi ini kita alami disaat tingkat kematian akibat kesehatan dan pelayanan yang buruk di West Papua. Bahkan Fakultas Kedokteran Uncen saja tidak memiliki fasilitas praktek dengan mutu pendidikan yang berkualitas. Walaupun berulangkali Mahasiswa Uncen protes.

Saat ini menghadapi Covid-19, tenaga kedokteran minim. Fasilitas minim. Obat-obatan terbatas. Tingkat kesadaran tentang kesehatan masyarakat dalam pencegahan hingga pengobatan sangat minim. Menyebabkan kematian tidak terbendung, dan hari-hari banyak mati, dalam ancaman Covid-19.

Lalu kita bertanya, kemana triliunan uang yang katanya mengalir ke Papua? Kemana hasil perusahaan besar yang mengeksploitasi SDA Papua? Lalu diatas itu semua, justru rakyat yang kritik ditangkap dan dibunuh. Kita dipaksa loyal, dan tunduk pada segala kemauan penguasa. Bagai binatang di kandang, yang dikurung dan disembeli semaunya.

Rakyat Papua! Penguasa kolonial dan budak-budaknya di Papua habiskan uang untuk biaya politik, biaya proyek infrastruktur bagi pengusaha-pengusaha, biaya pengadaan barang dan jasa produk dari luar Papua, biaya jalan-jalan, sisanya untuk penggendutan rekening pribadinya.

Tengoklah! adakah satu saja industri pangan yang dibangun di Papua? adakah satu daerah di Papua yang rakyatnya berdaulat diatas produk pangan lokalnya sendiri? Atau pemberdayaan ekonomi masyarakat Papua? lalu, adakah distributor (transportasi, pasar, kios, mall, tokoh, dll) milik orang Papua? TIDAK ADA!

Karena tidak ada, maka saat krisis Covid-19 melanda, Penguasa kolonial di Papua melarang penutupan bandara dan pelabuhan laut yang menyebabkan penyebaran Covid-19. Mereka takut rakyat yang tergantung krisis pangan produk luar dan mereka dipersalahkan. Mereka takut kehilangan sumber pendapatannya.

Lantas, saat krisis begini, apakah kita akan makan emas, minum minyak, gas, tembaga, uranium, kayu, sawit, gaharu, atau semen dan besi yang selama ini diprioritaskan kolonial Indonesia di West Papua. Kita justru berharap pohon sagu yang dibabat berhektar-hektar. Kita justru berharap ikan yang mati karena racun limba Freeport di Amungsa, dll.

Oleh karena itu, menghadapi krisi ini, marilah kita hilangkan segala kepatuhan kita pada penguasa kolonial Indonesia. Hentikan harapan anda pada produk kolonial Indonesia yang  sedang menuju krisis akibat ketergantungannya pada produk pangan impor selama ini. Hentikan dukungan anda pada politisi birokrat orang Papua maupun non-Papua yang terbukti gagal memberikan jaminan ketahanan pangan. Berhenti jadi budak penguasa penjajah dan kapitalis.

Mari kita ikat kembali tali sosial budaya yang terputus selama ini. Tengoklah tanah air kita, berapa bidang tanah yang tersisa, berapa pohon sagu yang tersisa. Asah kembali parang, sabit, kampak, sekop. Perbaiki kembali perahu dan mari melaut! mari berkebun!

Tanamlah Keladi, Singkong, Umbi Jalar, dan segala sayur-sayuran. Tebang dan tanamlah pohon sagu demi persediaan makanan di rumah. Bergurulah dari petani, peternak, nelayan, dll., Kembalikan filosofi berkebun, beternak, nelayan yang menghidupi leluhurmu bertahan diatas tanah air West Papua. Temukan mode/corak produksimu sendiri sebagai landasan membangun kebangsaan Papua.

Hidupkan nilai budaya bekerja dan berbagi bersama-sama. Kita bekerja, menghasilkan, memenuhi secukupnya, dan memberi (membagi) kepada sesama manusia lain yang membutuhkan, tanpa batas keluarga, suku, agama, kelompok, ras, di tempat kita berada. Itu landasan nilai yang mengatur relasi produksi antara sesama umat manusia. Demi ketahanan dan kesetaraan.

Rakyat Pejuang, Pejuang Rakyat!

Victor Yeimo

Posting Komentar

0 Komentar